
Rekan Sibambo, saat musim hujan datang, perubahan cuaca tidak hanya terasa di luar rumah. Kelembapan udara di dalam ruangan ikut meningkat dan sering kali tidak disadari.
Padahal, ruangan yang terlalu lembap dapat memicu berbagai masalah. Dampaknya tidak hanya pada kondisi rumah, tetapi juga pada kenyamanan dan kesehatan penghuninya.
Kelembapan tinggi menjadi lingkungan ideal bagi jamur dan lumut. Area dinding, plafon, dan sudut ruang sering menjadi titik awal pertumbuhannya.
Dalam keseharian, jamur membuat rumah terlihat kotor dan tidak terawat. Bau apek pun mulai muncul tanpa disadari.
Jika dibiarkan, jamur dapat merusak lapisan dinding dan finishing. Perbaikannya membutuhkan waktu dan biaya tambahan.
Kasus umum terjadi pada rumah dengan ventilasi buruk yang jarang terkena sinar matahari.
Udara lembap dapat memicu masalah pernapasan, terutama bagi anak anak dan lansia. Jamur dan bakteri mudah berkembang dalam kondisi ini.
Dalam jangka pendek, penghuni bisa mengalami batuk atau alergi. Dalam jangka panjang, risiko gangguan pernapasan meningkat.
Kondisi ini sering dianggap sepele karena tidak langsung terlihat. Padahal dampaknya cukup serius.
Banyak keluarga baru menyadari masalah ini setelah anggota rumah sering mengalami alergi tanpa sebab jelas.
Kelembapan berlebih berdampak langsung pada furnitur. Kayu dapat melengkung dan lapisan finishing mengelupas.
Dalam penggunaan sehari hari, furnitur terasa cepat rusak meski masih relatif baru. Hal ini menurunkan kualitas ruang.
Tanpa penanganan, biaya penggantian furnitur menjadi tidak terhindarkan. Ini menambah beban pengeluaran.
Kasus umum terlihat pada lemari kayu yang ditumbuhi jamur saat musim hujan.
Ruangan lembap membuat rumah terasa dingin dan tidak nyaman. Aktivitas di dalam rumah menjadi kurang menyenangkan.
Dalam suasana seperti ini, penghuni cenderung membatasi penggunaan ruang tertentu. Rumah tidak dimanfaatkan secara optimal.
Kelembapan juga memengaruhi suasana hati. Ruang terasa suram dan kurang segar.
Banyak orang menghindari ruang tertentu karena terasa pengap dan berbau lembap.
Dalam jangka panjang, kelembapan dapat meresap ke dalam struktur bangunan. Dinding dan plafon menjadi rentan rusak.
Air yang terperangkap mempercepat pelapukan material. Ini mengurangi usia bangunan secara keseluruhan.
Masalah struktural sering baru terlihat setelah kerusakan cukup parah. Perbaikannya pun lebih kompleks.
Kasus umum adalah dinding yang mulai menggelembung akibat rembesan air yang tidak ditangani sejak awal.
Ruangan lembap akibat musim hujan bukan sekadar masalah kenyamanan. Risiko yang muncul dapat berdampak pada kesehatan dan kondisi bangunan.
Dengan memahami dampaknya sejak awal, langkah pencegahan dapat dilakukan lebih tepat. Rumah pun tetap sehat dan nyaman sepanjang musim hujan. (Alfiansyah/Sibambo Studio)