Mengapa Punya Rumah Terasa Lebih Sulit bagi Milenial dan Gen Z?

Published on
Thursday, January 22, 2026

Rekan Sibambo, cerita tentang orang tua yang bisa membeli rumah di usia muda sering menjadi pembanding yang menekan generasi saat ini. Perbandingan ini memunculkan pertanyaan besar, apakah milenial dan Gen Z memang hidup di era yang lebih sulit.

Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Kondisi kepemilikan rumah hari ini tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan ekonomi yang berbeda.

1. Kenaikan Harga Properti yang Tidak Seimbang

Pada masa generasi sebelumnya, harga rumah masih relatif sebanding dengan pendapatan. Kenaikan harga terjadi secara bertahap dan lebih terkendali.

Saat ini, harga properti melonjak jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan gaji. Akibatnya, jarak antara kemampuan beli dan harga rumah semakin lebar.

Kondisi ini membuat rumah terasa tidak terjangkau sejak awal. Banyak milenial dan Gen Z merasa tertinggal sebelum memulai.

Kasus yang sering muncul adalah rumah sederhana yang kini setara dengan harga rumah besar di masa lalu.

2. Beban Biaya Hidup yang Semakin Kompleks

Generasi sebelumnya hidup di era dengan struktur biaya hidup yang lebih sederhana. Kebutuhan pokok masih menjadi prioritas utama.

Kini, biaya hidup mencakup banyak aspek tambahan. Pendidikan, transportasi, teknologi, dan gaya hidup menyerap porsi besar penghasilan.

Tekanan ini mengurangi ruang untuk menabung secara signifikan. Rumah pun bukan lagi tujuan yang mudah dicapai.

Banyak milenial dan Gen Z kesulitan mengumpulkan uang muka karena pengeluaran rutin yang tinggi.

3. Perubahan Pola Kerja dan Stabilitas Penghasilan

Dulu, pekerjaan cenderung lebih stabil dan jangka panjang. Hal ini memudahkan perencanaan finansial termasuk membeli rumah.

Saat ini, pola kerja lebih fleksibel namun tidak selalu stabil. Kontrak jangka pendek dan pekerjaan lepas menjadi hal umum.

Ketidakpastian penghasilan membuat komitmen jangka panjang terasa berisiko. Kepemilikan rumah pun sering ditunda.

Tidak sedikit generasi muda yang menunggu kepastian karier sebelum berani mengambil cicilan rumah.

4. Perbedaan Akses Pembiayaan dan Kredit

Di masa lalu, akses kredit rumah relatif lebih longgar dengan persaingan yang minim. Proses pengajuan pun cenderung lebih sederhana.

Kini, sistem pembiayaan menjadi lebih selektif. Persyaratan administrasi dan skor kredit menjadi penentu utama.

Bagi generasi muda dengan riwayat keuangan terbatas, akses ini menjadi tantangan tersendiri. Rumah pun terasa semakin jauh.

Kasus umum terjadi ketika pengajuan kredit ditolak meski penghasilan dinilai cukup.

5. Perubahan Cara Pandang terhadap Rumah

Bagi generasi sebelumnya, rumah adalah kebutuhan utama sejak awal berkeluarga. Kepemilikan rumah menjadi prioritas hidup.

Milenial dan Gen Z memiliki cara pandang yang lebih fleksibel. Rumah tidak selalu menjadi target awal, melainkan bagian dari proses hidup.

Pendekatan ini sering disalahartikan sebagai ketidakmampuan. Padahal, yang berubah adalah strategi dan waktu.

Banyak generasi muda memilih menata karier dan stabilitas terlebih dahulu sebelum membeli rumah.

Kesimpulan

Perbedaan kemampuan memiliki rumah bukan semata soal usaha individu. Ada perubahan struktural yang memengaruhi setiap generasi.

Memahami konteks ini membantu melihat realita secara lebih adil. Bagi milenial dan Gen Z, kepemilikan rumah bukan mustahil, tetapi membutuhkan pendekatan yang berbeda. (Alfiansyah/Sibambo Studio)

image-cta

Follow our social media!

PILIHAN PROFESIONAL UNTUK HUNIAN YANG IDEAL

HUBUNGI KAMI
Rekomendasi Artikel Selanjutnya
image-cta