Rumah Ramah Anak Dimulai dari Desain yang Paham Kebutuhan Kecil

Published on
Wednesday, February 11, 2026

Rekan Sibambo, kehadiran anak mengubah cara sebuah rumah digunakan. Ruang yang sebelumnya terasa aman bagi orang dewasa bisa menjadi area penuh risiko bagi anak.

Karena itu, rumah ramah anak tidak lahir secara kebetulan. Ia perlu dipikirkan sejak awal, baik dari sisi desain, material, maupun kebiasaan di dalamnya.

1. Prioritaskan Keamanan di Setiap Sudut

Keamanan menjadi fondasi utama rumah ramah anak. Anak bergerak aktif dan sering tidak menyadari potensi bahaya di sekitarnya.

Sudut tajam, perbedaan level lantai, hingga bukaan yang terlalu rendah perlu diperhatikan. Detail kecil bisa berdampak besar.

Banyak kasus cedera anak terjadi di dalam rumah, bukan di luar. Penyebabnya sering kali sepele namun luput dari perencanaan.

Rumah yang dirancang sadar anak biasanya menggunakan sudut tumpul dan pengaman tambahan tanpa mengorbankan estetika.

2. Pilih Material yang Aman dan Mudah Dibersihkan

Anak sering berinteraksi langsung dengan lantai dan dinding. Material yang digunakan berperan besar pada kesehatan dan kebersihan.

Permukaan yang mudah dibersihkan membantu orang tua menjaga rumah tetap higienis. Risiko alergi dan iritasi pun berkurang.

Material licin atau berpori besar bisa menjadi masalah saat anak bermain. Terutama ketika rumah lembap atau basah.

Karena itu, banyak hunian keluarga memilih material ramah anak yang tahan noda dan tidak berbahaya.

3. Ciptakan Ruang Bermain yang Terintegrasi

Anak membutuhkan ruang untuk bereksplorasi. Rumah ramah anak tidak selalu memerlukan ruang bermain khusus yang besar.

Area bermain bisa menyatu dengan ruang keluarga. Selama alurnya aman dan terkontrol.

Tanpa ruang yang disiapkan, anak cenderung bermain di area yang kurang aman. Seperti tangga atau dapur.

Dengan penataan yang tepat, rumah tetap rapi dan anak memiliki tempat berekspresi.

4. Gunakan Furnitur yang Proporsional

Ukuran furnitur memengaruhi kenyamanan anak di rumah. Furnitur terlalu tinggi atau berat bisa menyulitkan mereka.

Furnitur yang proporsional membantu anak belajar mandiri. Mereka bisa duduk, mengambil barang, dan merapikan mainan sendiri.

Sebaliknya, furnitur tidak ramah anak sering membuat ruang terasa kaku. Anak pun sulit beradaptasi.

Banyak rumah keluarga mulai menyesuaikan furnitur agar tumbuh bersama anak.

5. Atur Sirkulasi Ruang yang Jelas

Rumah ramah anak membutuhkan alur gerak yang jelas. Anak perlu ruang bergerak tanpa hambatan berbahaya.

Sirkulasi yang baik membantu orang tua mengawasi aktivitas anak. Ruang terasa lebih terbuka dan terang.

Rumah dengan sirkulasi buruk sering menciptakan area sempit dan gelap. Risiko tersandung pun meningkat.

Perencanaan sirkulasi yang matang membuat rumah aman sekaligus nyaman untuk seluruh keluarga.

Kesimpulan

Rumah ramah anak bukan tentang mengubah rumah menjadi taman bermain. Ia tentang desain yang memahami perilaku dan kebutuhan anak.

Dengan perencanaan yang tepat, rumah bisa menjadi tempat aman bagi anak sekaligus tetap nyaman bagi orang tua. (Alfiansyah/Sibambo Studio)

image-cta

Follow our social media!

PILIHAN PROFESIONAL UNTUK HUNIAN YANG IDEAL

HUBUNGI KAMI
Rekomendasi Artikel Selanjutnya
image-cta